Perkuliahan STAI Al Qudwah Latihan Dasar Kepemimpinan Kegiatan BEM STAI Al Qudwah Jadilah yang Terbaik dan Bermanfaat PMB STAI Al Qudwah 2019

Selasa, 10 September 2019

TULANG RUSUK YANG BENGKOK

Hawa. Para penafsir Qur'an menuturkan penciptaan wanita pertama ini dari tulang rusuk Adam as. Sebut saja ath-Thobari yang mengutip pendapat Qatadah.Tulang rusuk sebelah kiri, kata Ibnul Mundzir setelah mengutip riwayat Abdullah bin ‘Amr. Tulang rusuk paling bawah, sahut Ibnu Abi Hatim dalam kutipannya dari adh Dhahak.

Karena Allah mengambil tulang rusuk yang bengkok ini untuk menciptakan Hawa. Maka para pria harus memperlakukan wanita dengan lembut dan sabar. Jika ditekuk akan patah, jika dibiarkan akan semakin bengkok.

Pakar Hadits al-Bukhari menyampaikan sebuah narasi dari Abu Hurairah ra, bahwa Nabi Muhammad saw, memerintahkan untuk menasihati para wanita dengan bijaksana.(hadits no 5186).

Adakah karunia yang lebih utama dari wanita (istri) yang bertaqwa? Siapakah yang sedia menerima tulang rusuk yang patah?

Gagasan ini tak serta-merta meremehkan posisi wanita dalam pandangan pria. Raghib al-Ashfihani pakar susastra arab ini, memberikan penekanan adanya keterkaitan erat unsur maskulin pada wanita.

Bukankah Hawa tercipta dari tulang rusuk seorang pria? Sehingga hakikat menasihati wanita, dapat diartikan sebagai perwujudan memperbaiki diri sendiri.

Disebabkan tulang rusuk bengkok itu merupakan bagian dari keseluruhan seorang pria, beberapa penafsir bahkan mengemukakan pandangan yang cukup berani tentang hasrat dan kerinduan yang terus menerus dari bagian itu (istri) kepada keseluruhannya (suami) dengan tak terbagi.

Tulang rusuk bengkok itu menempuhi jalan berliku untuk menepati janjinya atas kesetiaan.

Ibnul Mundzir, Mufasir abad ke 2 hijriah ini, mengutip Mahaguru Tafsir dari kalangan sahabat, Ibnu Abbas ra. Bahwa terciptanya wanita dari bahagian pria menjadikan gairah dan kesetiaannya hanya pada pria (suaminya), maka cintailah wanita (istri) kalian. Hal ini berbeda dengan pria yang tercipta dari tanah.

Kalau boleh mengutip pepatah jalanan, “bagi pria, gagal dalam cinta adalah pengalaman, tapi bagi wanita, gagal dalam cinta adalah kehancuran”.

Tulang rusuk yang bengkok itu adalah karunia Sang Penggenggam Jiwa. Tercipta dengan tujuan memberikan arti bagi keberadaan kaum pria, akan hasrat pria (suami) untuk dihargai seutuhnya dengan tak terbagi dari wanita (istri).

Melalui tulang rusuk bengkok itu, sebagaimana disadari secara mendalam oleh penulis tafsir al-Qayyim, Allah telah mengungkapkan keagungan diri-Nya dalam cara yang paling indah dalam diri wanita. Bukan karena kecantikan atau kesempurnaan fisiknya.

Hanya dalam dongeng imajinatif, wanita memainkan perannya dalam peradaban melalui kecantikannya yang digambarkan melalui gemerlap cahaya yang penuh warna.

Hasbunallah wa ni’mal wakil

Sigit Suhandoyo
Dosen STAI al-Qudwah Depok


Jumat, 12 Juli 2019

ISTRI PAKAIAN BAGI SUAMINYA, SUAMI PAKAIAN BAGI ISTRINYA



Tak hanya sebagai sesuatu yang digunakan menutupi tubuh dan melindungi kehormatan. Pakaian adalah objek yang terkait begitu erat dengan kepribadian seseorang. Penelusuran terhadap pendapat para penafsir al-Qur’an tentang penggunaan kata pakaian dalam al-Qur’an menunjukkan makna lahiriyah maupun batiniyah.

Setiap orang merajut niat, fikiran, kata dan tindakan, membentuk selembar pakaian bagi jiwanya. Maka adakah yang lebih baik dari pakaian takwa?

Mereka (istri) adalah pakaian bagi kalian (suami), dan kalian adalah pakaian bagi mereka.

Penggalan ayat ini merupakan ungkapan yang indah tentang kedalaman hubungan wanita dan pria dalam ikatan pernikahan yang jauh dari manifestasi rendah dan parsial. Hubungan integratif, saling melengkapi, menutupi aib dan memberikan perlindungan sebagaimana adanya pakaian.

Muqatil ibn Sulaiman, Penafsir abad ke 2 hijriah ini mengemukakan gagasan tentang istri yang merengkuh suami sepenuh hidupnya, demikian pula sebaliknya. Menunjukkan keindahan makna harmoni dari dua jiwa yang berbeda.

Tak pelak lagi az-Zajjaj, mufasir yang wafat pada 311 hijriah, menganalogikan hubungan itu sebagai kelekatan dalam ikatan pakaian. Pendapat yang juga diamini oleh Makki ibn Abi Thalib ini menunjukkan suatu metafora yang baik tentang hubungan keduanya yang tiada sekat dan bukan formalitas. Masing-masing mereferensikan kebaikan dan penerimaan bagi pasangannya.

Pensyari’atan istri dan suami sebagai pakaian bagi pasangannya, adalah bukti kasih sayang Allah kepada manusia. Setelah itu Allah menuntut dari mereka berdua untuk menghindar dari berbagai keburukan eksternal dengan senantiasa memperkuat hubungan mereka, demikian syaikh Mutawalli asy Sya’rawi.

Penggunaan ungkapan ini, juga menunjukkan adanya hubungan sensorik, fisik, emosional dan spiritual yang membangun moral korelatif antara keduanya.Bukankah pernikahan itu benteng yang menjamin penghuninya berada dalam keselamatan, ujar Raghib al asfihani, satu dan lainnya saling menutupi keburukan.

Abu Laits as Samarqandi, penulis tafsir Bahrul ‘ulum, bahkan mengungkapkan gagasan yang cukup tegas tentang keberadaan istri sebagai pelindung suami dari api neraka demikian pula sebaliknya.

Mufassir kontemporer, al-Hijazy menuturkan, penggalan ayat ini merupakan kerangka bagi keluarga yang kokoh, merupakan wujud rasa saling mengasihi yang mendalam, bukan sekedar hubungan fisik semata, melainkan penyatuan ruhiyah, keterikatan jiwa, dan menghimpun tujuan yang satu untuk membina kehidupan keluarga atas prinsip-prinsip kemuliaan.

Penggalan sebuah ayat al-Qur’an ini merangkum kata dengan berbagai makna yang mendalam, mewariskan pemahaman yang idealistis dan romantis tentang hubungan seharusnya antara wanita dan pria dalam ikatan pernikahan.

Memberikan pendekatan bagi kebahagiaan dunia dan akhirat yang melibatkan pemahaman dan komitmen keagamaan.

Hasbunallah wa ni’mal wakil


Sigit Suhandoyo
Dosen STAI al-Qudwah Depok