Perkuliahan STAI Al Qudwah Latihan Dasar Kepemimpinan Kegiatan BEM STAI Al Qudwah Jadilah yang Terbaik dan Bermanfaat Wisuda STAI Al Qudwah

Selasa, 29 Januari 2019

Dilema Pendidikan Tinggi Dunia Ketiga

Dilemma of Success
Higher Education in Advanced Developing Countries
(oleh Philip G. Altbach)
"The Dilemma of Success: Universities in Advanced Developing Countries," Prospects 12,no. 3 (1982): 293-312.


Sudah banyak diskusi atau wacana-wacana tentang dunia pendidikan di negara berkembang yang yang dilatarbelakangi oleh faktor – faktor seperti tingginya angka buta huruf, masalah ekonomi, kurangnya insfrastruktur dan rendahnya nilai dari dunia pendidikan. Masalah pengangguran, sarjana2 hijrah keluar negri, dan standar pendidikan yang rendah menjadi realitas yang sudah biasa. Realitas- realitas itu dipandang sebagai awal dari ketidakmajuan dan ketidakmandirian suatu negara. Melihat realitas ini negara2 itu beranggapan bahwa pendidikan tinggi sebagai bagian yang penting dalam perkembangan pembangunan di negaranya dan perkembangan universitas menjadi kunci di negara berkembang tanpa memperhitungkan ideologi negara tersebut. Oleh karena itu penting untuk menganalisis masalah dan prospek perkembangan pendidikan di negara berkembang terlebih dahulu dan tantangan yang akan dihadapi.

Dalam dimensi yang luas, universitas2 di negara berkembang mirip dengan yang ada di Barat. Rasio murid guru, fasilitas perpustakaan dan laboratium, beban belajar dan bahkan gaji pengajar banyak yang mengikuti standar internasional. Masalahnya adalah kebanyakan fasilitas penelitian dan penerbit jurnal2 atau buku2 berasal dari Amerika dan Eropa, sehingga produktivitas dan penyebaran penelitian menjadi masalah besar bagi universitas2 di negara2 berkembang. Apa tantangannya? Intitusi pendidikan di Negara berkembang semua berdasarkan Barat, atau model colonial. Model ini cenderung melayani sedikit penduduk, dari segi biaya pendidikan maupun dari segi bahasa.
Dari wacana diatas masalah2 pendidikan di negara2 berkembang dapat dilihat dari infrastruktur pendidikan, kurikulum dan organisasi studi

1. Element2 kemajuan pendidikan

Elemen2 yang menjadi masalah adalah dari segi fasilitas, sumber daya manusianya dan tradisi akademik di negara2 berkembang. Dari segi fasilitas kita terbentur dengan dana, sehingga kita masih bergantung dengan dengan fasilitas negara2 barat. Sumber daya manusia di negara2 berkembang kurang berkualitas diakibatkan karena tidak meratanya pengembangan pendidikan. Tradisi akademik juga berpengaruh karena tujuan pendidikan di negara2 berkembang berangkat dari kebutuhan ekonomi, tidak heran lulusan sarjana yang pengangguran menjadi hal yang biasa dijumpai. Akibat yang ditimbulkan dari wacana di atas adalah dasar atau rangka dari pendidikan tidak terbangun.

2. Kurikulum dan organisasi studi

Dalam perkembangan pendidikan di negara2 berkembang, kurikulum yang dipakai berdasarkan dengan yang ada di negara2 Eropa (akibat kolonialisme). Dengan asumsi pelajar berasal dari latar berpendidikan yang tinggi, dan punya kemampuan untuk menempatkan diri di masyarakat. TEtapi kenyataannya di negara2 berkembang berbeda yang membuat asumsi tadi dipertanyakan. Begitu juga bila dilihat dari segi infrastruktur yang berbeda. Hal ini yang mebuat kurikulum dan organisasi studi di barat tidak cocok untuk negara2 berkembang.
Ada beberapa usaha dari negara2 tersebut untuk merubah perbedaan ini. Ada negara2 yang membuka institusi2 swasta yang memakai pengajar professional dari luar, ada negara yang membuat institute yang menyediakan studi akademik yang diperlukan negaranya. Usaha ini cukup berhasil bisa dilihat dari India dan Singapura.

3. Bahasa

Sesuai yang sudah diungkapkan diawal bahwa penerbit jurnal2 dan buku2 berasal dari Barat maka tidak heran bahasa menjadi masalah. Disini muncul fakta bahwa hanya sedikit orang2 yang menguasai bahasa asing di negara2 berkembang. Dan dengan adanya strata dalam masyarakat, kemungkinan hanya orang mampu yang mempunyai akses lebih dalam bahasa internasional akan mendominasi pendidikan tinggi.
Sudah ada kemajuan yang dibuat dalam penggunaan bahasa asli daripada bahasa asing, seperti Jepang yang walaupun masih bergantung dengan translasi dari bahasa Eropa, orang2 Jepang sudah mencapai pendidikan yang setara dengan bangsa Eropa.

4. Relasi pemerintah dengan Universitas

Relasi yang tepat antara pemerintah dan universitas yang kebanyakan sering menyediakan dana untuk pendidikan dan institusi akademik dan masalah akuntabilitas dan otonomi menjadi isu yang didebatkan. Di negar2 berkembang dimana pengeluaran untuk pendidikan tinggi dalam anggaran belanja negara tinggi menjadikan akuntabilitas pemerintah bisa diterima, namun karena pendidikan berdasar tradisi akademik kolonialisme, masalah otonomi menjadi sulit. Dilema yang terjadi adalah bilamana universitas sudah dapat otonomi, disamping kita memperoleh akademik freedom timbul masalah dengan keuangan universitas tersebut sehingga biaya sekolah akan sanat tinggi yang mengakibatkan tidak semua orang bisa merasakan pendidikan tinggi.

5. Pengaruh luar

Pernyataan bahwa universitas manapun adalah bagian dari suatu jaringan intelektual internasional adalah benar. Juga benar bila dikatakan yang memgang peranan penting dalam jaringan ini adalah universitas di negara industrial. Hal ini dikarenakan oleh tingkat intelektual yang di bawah negara2 maju dan juga factor bahasa yang bisa memisahkan kita dari jaringan internasional tadi. Ada beberapa usaha untuk mengatasi soal intelektualitas, seperti dengan mengirim pelajar ke negara2 maju dengan maksud agar sekembalinya dari sana akan bisa memberi masukan kepada negaranya. Namun itu menjadi masalah bilamana maksud tersebut tidak tercapai, akibatnya kekuatan negara2 maju makin kuat posisinya dalam jaringan tadi. Untuk itu diperlukan adanya kerjasama antar regional untuk memainkan peranan penting dalam perkembangan universitas2 di negara2 berkembang.

6. Perubahan.

Perubahan di negara2 berkembang berbeda dengan yang ada di negara barat, dimana negara2 barat, perubahan diisi dengan untuk perubahan social dan nilai yang terkandung dalam pendidikan. Walaupun banyak usaha yang dilakukan negara2 berkembang, tetap saja system pendidikan colonial belum bisa dihilangkan. Perubahan ini memang proses yang susah dan tidak heran hanya sedikit system pendidikan yang secara siknifikan berubah sesuai fungsinya di negara berkembang. Karena kita juga tidak bisa begitu saja melepaskan diri begitu saja dengan perkembangan di luar sana. Mata kita terlalu berkaca – kaca dengan sistem yang dikembangkan disana tanpa melihat esensi dari pendidikan itu sendiri dan kondisi yang nyata.

Kesimpulan yang bisa saya ambil

  1. Sistem pendidikan yang meniru negara2 maju tidak cocok dengan negara2 berkembang yang bermasalah dengan kemiskinan dan kualitas intelektual SDMnya.
  2. Ada beberapa factor yang menghambat perkembangan pendidikan di negar2 berkembang.
  3. Analisis perkembangan negara berkembang yang berada pada level ekonomi dan pendidikan yang berada pada level tinggi adalah langkah awal untuk memprediksi arah masa depan negara2 berkembang.
  4. Membuat kerjasama antar regional untuk memperkuat perguruan tinggi antar negara – negara 
  5. Memang perubahan dalam pendidikan harus segera dimulai, karena saya yakin pendidikan adalah solusi atas masalah yang terjadi, dan pendidikan adalah modal manusia menjadi manusia seutuhnya.

diterjemahkan oleh Wahyu Sulchan, M.Sos

Rabu, 28 November 2018

Motivasi Belajar dalam AL Qur’an

Dalam kamus besar bahasa Indonesia motivasi adalah, “suatu dorongan yang timbul pada seseorang secara sadar untuk melakukan suatu tindakan dengan tujuan tertentu.” Perbuatan pencapaian tujuan ini melahirkan kepuasan pada diri seseorang.  Tidak bisa dipungkiri, setiap tindakan yang dilakukan oleh manusia selalu dimulai dengan motivasi (niat) sebagaimana sabda Rasulullah saw,

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا، أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْه    [1]

“Sesungguhnya setiap amal perbuatan bergantung pada niatnya, dan bagi setiap orang apa yang ia niatkan. Barang siapa yang hijrahnya karena urusan dunia yang ingin diraihnya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya sesuai dengan yang ia niatkan.”

Dalam kegiatan belajar, maka motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak dalam diri pembelajar yang menimbulkan perbuatan belajar, yang menjamin kelangsungan dari perbuatan belajar dan yang memberikan arah pada perbuatan belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh pembelajar itu dapat tercapai.

Al Qur’an memotivasi dan mengarahkan setiap manusia untuk belajar, diantaranya tertera dalam surat al An’am ayat ke 50 dan 160,

قل لا أقول لكم عندي خزآئن الله ولا أعلم الغيب ولا أقول لكم إني ملك إن أتبع إلا ما يوحى إلي قل هل يستوي الأعمى والبصير أفلا تتفكرون

“Katakanlah: "Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang gaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Katakanlah: "Apakah sama orang yang buta dengan orang yang melihat?" Maka apakah kamu tidak memikirkan (nya) ”

من جاء بالحسنة فله عشر أمثالها ومن جاء بالسيئة فلا يجزى إلا مثلها وهم لا يظلمون

“Barang siapa membawa amal yang baik maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barang siapa yang membawa perbuatan yang jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikit pun tidak dianiaya /dirugikan.”



AL QUR’AN DAN PERADABAN INTELEKTUAL

Menurut az Zuhaili, ayat 50 surat al an’am ini terkait dengan perilaku orang-orang musyrik yang meminta kepada Rasulullah saw sebuah tanda kenabiannya dalam bentuk “معجزات ماديّة قاهرة” [2] kemukjizatan bersifat kebendaan yang luar biasa. Hal ini merupakan kebodohan terhadap keutamaan di utusnya Rasulullah saw serta risalah yang dibawanya.

Rasulullah saw menegaskan bahwa wahyu yang diterimanya berupa al Qur’an adalah mukjizat, sebagaimana mukjizat yang diterima setiap nabi. Dari Abu Hurairah ra, bahwasanya Rasulullah saw telah bersabda,

مَا مِنَ الأَنْبِيَاءِ نَبِيٌّ إِلَّا أُعْطِيَ مَا مِثْلهُ آمَنَ عَلَيْهِ البَشَرُ، وَإِنَّمَا كَانَ الَّذِي أُوتِيتُ وَحْيًا أَوْحَاهُ اللَّهُ إِلَيَّ، فَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَكْثَرَهُمْ تَابِعًا يَوْمَ القِيَامَةِ  [3]

“Tidak ada seorang nabipun dari pada nabi-nabi kecuali diberikan kepada mereka (mukjizat) yang serupa agar orang-orang beriman kepadanya, dan sesungguhnya yang diberikan kepadaku adalah wahyu yang diwahyukan Allah kepadaku, maka aku berharap pengikutku yang paling banyak ”

Mukjizat adalah sebuah kejadian yang luar biasa yang disertai dengan sikap penentangan, sehingga dengan adanya mukjizat tersebut menjadi landasan keselamatan dari para penentang. Sebagian besar mukjizat-mukjizat yang ditunjukkan kepada bani Israil bersifat indrawi dan kebendaan, hal ini mungkin disebabkan ketidak sanggupan akal dan rendahnya pengetahuan yang mereka miliki.

Berbeda dengan hal tersebut, as Suyuti berkata, “أَكْثَرُ مُعْجِزَاتِ هَذِهِ الْأُمَّةِ عَقْلِيَّةٌ لِفَرْطِ ذَكَائِهِمْ وَكَمَالِ أَفْهَامِهِمْ وَلِأَنَّ هَذِهِ الشَّرِيعَةَ لَمَّا كَانَتْ بَاقِيَةً عَلَى صَفَحَاتِ الدَّهْرِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ خُصَّتْ بِالْمُعْجِزَةِ الْعَقْلِيَّةِ الْبَاقِيَةِ لِيَرَاهَا ذَوُو البصائر”  [4] sebagian besar mukjizat bagi ummat ini bersifat intelektual dikarenakan kecerdasan dan kesempurnaan pemahaman mereka. Dikarenakan pula syari’at ini akan tertulis abadi sepanjang masa hingga hari kebangkitan. Dikhususkannya mukjizat intelektual yang abadi ini agar dapat diketahui oleh orang-orang yang memiliki pengetahuan.

Berdasarkan pemikiran tersebut dapat kita fahami adalah bahwa mukjizat yang bersifat indrawi dan kebendaan akan lenyap bersama lenyapnya bangsa-bangsa tersebut dan tidak ada lagi yang dapat menyaksikan kejadian tersebut kecuali mereka yang hidup pada masa itu. Sedangkan mukjizat al Qur’an abadi, senantiasa menginspirasi manusia dan menjawab tantangan hidup mereka dari generasi ke generasi. Dari Ali bahwasanya Rasulullah saw bersabda,

«سَتَكُونُ فِتَنٌ» . قُلْتُ: وَمَا الْمَخْرَجُ مِنْهَا؟ قَالَ: " كِتَابُ اللَّهِ، كِتَابُ اللَّهِ فِيهِ نَبَأُ مَا قَبْلَكُمْ، وَخَبَرُ مَا بَعْدَكُمْ، وَحُكْمُ مَا بَيْنَكُمْ  [5]
“Akan terjadi fitnah, maka dikatakan, apakah ada jalan keluar darinya? Beliau bersabda: kitabullah di dalamnya terdapat penjelasan tentang pendahulu kalian dan kabar dimasa datang, serta hukum diantara kalian ”

Selain abadi dan menjadi solusi permasalahan manusia, kemukjizatan al Qur’an adalah aspek intelektualitas dan rasionalitasnya, hal ini menegaskan kebangkitan peradaban intelektual ummat adalah dampak kemukjizatan yang akan diraih oleh ummat Islam jika mereka kembali melakukan proses tafaqquh secara benar terhadap al Qur’an. Sa’id bin Manshur meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud bahwa dia berkata, “مَنْ أَرَادَ الْعِلمَ فَعَلَيْهِ بِالْقُرْآنِ” barangsiapa menginginkan ilmu raihlah dengan al Qur’an. Dikatakan pula “فَلْيُثَوِّرِ الْقُرْآنَ، فَإِنَّ فِيهِ عِلْمَ الْأَوَّلِينَ وَالْآخِرِينَ” maka bangkitkanlah al Qur’an karena didalamnya terdapat ilmu bangsa-bangsa terdahulu dan masa depan. [6]
   

PERSPEKTIF AL QUR’AN TERHADAP ILMU DAN KESUKSESAN

Al Qur’an menyeru manusia untuk meraih keberhasilan di dunia dan akhirat. Dalam Islam dimensi dunia tidak bisa dipisahkan dengan akhirat, karena akhirat adalah tujuan keberhasilan hidup jangka panjang yang bersifat kekal dan abadi. Dalam ayat ke 50 surat al An’am ini Allah ta’ala membuat perumpamaan antara orang buta dan orang yang dapat melihat.  Menurut Mujahid, maksud dari firman Allah ta’ala , “Apakah sama orang yang buta dengan orang yang melihat?” adalah “apakah sama antara orang yang menyimpang dari perkara yang benar “الضَّالَّ” dengan orang yang berada dalam petunjuk “المُهتَدِيَ”. [7] Pendapat lain dikemukakan oleh al Mawardi, yang dimaksud orang buta dan melihat adalah “الجاهل والعالم” [8] orang bodoh dan orang berilmu.

Ath Thobari meriwayatkan dari Qatadah bahwa yang dimaksud dengan orang buta adalah, “الكافر الذي قد عمي عن حق الله وأمره ونعمه عليه” orang kafir yang tidak melihat kebenaran Allah, kekuasaan serta anugerah yang Dia limpahkan. Sedangkan maksud orang yang dapat melihat adalah, “العبد المؤمن الذي أبصر بصرًا نافعًا، فوحّد الله وحده، وعمل بطاعة ربه، وانتفع بما آتاه الله” [9] orang beriman yang melihat hal-hal yang bermanfaat, mengesakan Allah dan menta’ati Allah serta mengambil manfaat atas segala yang Allah berikan kepadanya.

Pendapat-pendapat tersebut di atas menjelaskan pandangan al Qur’an terhadap orang-orang yang mengabaikan wahyu dan yang mengambil manfaat dari wahyu tersebut. Allah mengibaratkan orang-orang yang tidak mengambil manfaat dari al Qur’an sebagai orang-orang yang bodoh, buta, sesat dan mengingkari anugerah yang Ia turunkan bagi manusia. Allah juga mengibaratkan orang-orang yang mengambil manfaat dari al Qur’an sebagai orang berilmu yang normal penglihatannya, senantiasa dalam petunjuk dan mendapatkan manfaat dari apa yang telah Allah anugerahkan kepada manusia. Sehingga Abu Laits as Samarqandy berkata “أَفَلا تَتَفَكَّرُونَ في أمثال القرآن ومواعظه” tidakkah kalian memperhatikan perumpaan-perumpamaan dan pelajaran-pelajaran dalam al Qur’an.

Dengan kata lain orang-orang yang buta adalah mereka yang penglihatannya hanya sampai pada sisi kehidupan dunia yang terbatas. Informasi, ilmu dan kompetensi yang berhasil diraihnya di dunia hanya membawa manfaat baginya juga hanya di dunia saja. Sedangkan orang-orang yang dapat melihat adalah mereka yang mampu meraih keberhasilan jangka panjangnya. Informasi, ilmu serta kompetensi yang dimilikinya membawa manfaat tidak hanya didunianya semata tapi juga bagi kehidupan sesudah kematiannya.

Sebagai contoh seruan al Qur’an terhadap ilmu, adalah kisah nabi Sulaiman as, dalam surat an Naml ayat 40, tentang seorang hamba yang mempunyai ilmu yang sanggup membawa singgasana ratu Balqis dalam sekedipan mata. Muhammad Syaddid berpendapat, “ini adalah sebuah contoh al Qur’an memotivasi orang untuk berfikir, al Qur’an hanya menunjukkan kunci-kunci ma’rifah dan rahasia alam serta mendorong manusia untuk mengkaji dan meneliti.” [10] Demikianlah al Qur’an menggiring manusia agar dengan potensinya melakukan penelitian, pengkajian dan pengembangan ilmu pengetahuan untuk keberhasilan dunia dan akhiratnya.


ALLAH MELIPATGANDAKAN BALASAN ATAS KEBAIKAN

Firman Allah ta’ala dalam surat al An’am merupakan contoh motivasi bagi manusia agar senantiasa beramal sholeh termasuk diantaranya adalah belajar. al Mawardi menafsirkan sebagai berikut, menurutnya “balasan 10 kali lipat atas amal baik adalah sebagai anugerah keutamaan bagi orang yang beramal sholeh, sedangkan balasan seimbang atas sebuah kejahatan adalah tanda keadilan Allah.” [11] Selanjutnya ia menjelaskan bahwa yang dimaksud balasan 10 kali lipat bukanlah dalam artian pahala disisi Allah, sebab dalam surat al Baqarah ayat 261 Allah ta’ala melipatgandakan balasan atas infaq hingga sebesar 700 kali lipat. [12] Sehingga al Mawardi mengemukakan bahwa diantara pendapat para ulama tafsir balasan yang dimaksud pada ayat ini adalah “مضاعفة تفضيل” [13] pelipatgandaan keutamaan. Hal ini sebagaimana firman Allah ta’ala dalam surat Fathir ayat 30

ليوفيهم أجورهم ويزيدهم من فضله إنه غفور شكور

“agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.”

Dengan demikian orang-orang yang berbuat kebaikan memperoleh banyak sekali balasan kebaikan, selain pahala yang diperoleh disisi Allah juga tambahan kenikmatan dari sisi Allah.

Pendapat lain dikemukakan oleh az Zuhaili, menurutnya maksud balasan atas kebaikan adalah sebagai berikut, “من جاء يوم القيامة بالخصلة الحسنة والفعلة الطيبة من الطاعات، فله جزاؤها عشر حسنات أمثالها ، ولكن قد تضاعف الحسنة بعد ذلك إلى سبعمائة ضعف إلى أضعاف كثيرة” barang siapa yang datang pada hari kiamat dengan akhlaq dan perbuatan yang baik dalam bentuk ketaatan, baginya balasan sepuluh kali lipat yang semisal, dan kemudian dilipat gandakan kebaikannya setelah itu hingga 700 kali lipat. Kemudian az Zuhailiy mengutip surat al Baqarah ayat 261.

Terkait dengan sifat Allah ta’ala yang Maha Pengasih dan Penyayang ini, Ibnu Abbas meriwayatkan bahwasanya Rasulullah saw bersabda,

إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ ثُمَّ بَيَّنَ ذَلِكَ، فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً، فَإِنْ هُوَ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ عَشْرَ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِ مِائَةِ ضِعْفٍ إِلَى أَضْعَافٍ كَثِيرَةٍ، وَمَنْ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً، فَإِنْ هُوَ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ سَيِّئَةً وَاحِدَةً  [14]

“Sesungguhnya Allah ta’ala telah menulis kebaikan dan keburukan kemudian menjelaskannya, barang siapa berkeinginan berbuat baik namun belum mengerjakannya maka Allah catatkan baginya kebaikan yang sempurna, dan barang siapa mengerjakan keinginan baiknya maka Allah catatkan baginya disisi Allah  sepuluh kebaikan hingga 700 kali lipat hingga pelipat-gandaan yang banyak. Dan barang siapa yang berkeinginan berbuat buruk dan tidak mengerjakan maka Allah catatkan baginya kebaikan yang sempurna dan barang siapa yang mengerjakan keinginan buruknya maka Allah catatkan baginya satu kejahatan ”

Hasbunallah wa ni’mal wakil

oleh Sigit Suhandoyo

[1] Muhammad bin Isma’il Abu Abdullah al Bukhari al Ju’fi, 1422H, Shahih al Bukhari, Beirut: Daar Thuuq an Najah 1/6 hadits no 1.
[2] Wahbah bin Musthofa az Zuhaili, 1418 H, at Tafsir al Munir fil Aqidati wasy Syari’ati wal Manhaj, Damaskus : Daar al Fikr al Mu’ashir, 7/210.
[3] Al Bukhari, op.cit, 6/182 hadits no 4981.
[4] Abdurrahman bin Abi Bakr Jalaluddin as Suyuti, 1394 H, al Itqan fi Ulumil Qur’an, Mesir : al Haiah al Mishriyah al ‘Ammah lil Kitab, 4/3
[5] Abu Muhammad Abdullah Abdurrahman bin Fadhil bin Abdus Shomad ad Darimi, 1412H, Musnad ad Darimiy, Saudi Arabia: Daar al Mughni lin Nasyr wat Tauzi’, 4/2098 hadits no 3374. Menurut Husain Salim Asad ad Daraniy pada sanad ini terdapat 2 perawi yang majhul.
[6] Ahmad bin al Husain bin Aly bin Musa al Khurasany Abu Bakar al Bayhaqi, 1423 H, Sya’abul Iman, Riyadh: Maktabah ar Rusyd lin Nasyr wat Tauzi’, 3/347 atsar no 1808. Al Baihaqy menambahkan bahwa yang dimaksud adalah al Qur’an merupakan asas segala ilmu.
[7] Abul Hajaj Mujahid bin Jabr at Tabi’iy al Maky al Qurasy al Makhzumi, 1410 H, Tafsir Mujahid, Mesir: Daar al Fikr al Islamy al Haditsah, h 322.
[8] Abul Hasan Ali bin Muhammad bin Muhammad bin habib al Bashariy al Baghdady al Mawardy, tt, an Nukat wal Uyun, Beirut-Libanon : Daar al Kutub al Ilmiyyah, 2/117.
[9] Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir Abu Ja’far ath Thobari, 1420 H, Jami’ul Bayan fi Ta’wilil Qur’an, Beirut : Muasasah ar Risalah, 11/372.
[10] Muhammad Syadid, tt, Manhaj al Qur’an fit Tarbiyyah, (edisi terjemah oleh: Nabhani Idris), Jakarta: Rabbani Press, h 134.
[11] Al Mawardi, op.cit, 2/193.
[12] Ayat yang dimaksud adalah “مثل الذين ينفقون أموالهم في سبيل الله كمثل حبة أنبتت سبع سنابل في كل سنبلة مئة حبة والله يضاعف لمن يشاء والله واسع عليم” Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.
[13] Ibid, 2/194
[14] Al Bukhari, op.cit, 8/103 hadits no. 6491.